Mengenal Sukamta, Anak Petani yang Sukses Jadi Wakil Bupati - ayooha.com ! Portal Berita Banua Terkini

ayooha.com ! Portal Berita Banua Terkini

Rambut tebal & kuat tidak mudah rontok tanpa ke dokter‎

Mengenal Sukamta, Anak Petani yang Sukses Jadi Wakil Bupati

  • Selasa, 8 Agustus 2017 | 07:47
  • Dibaca : 389 kali
Mengenal Sukamta, Anak Petani yang Sukses Jadi Wakil Bupati
Drs H Sukamta. foto radar banjarmasin

PROKAL.CO, Tanggal 30 Juli, 54 tahun yang lalu, lahir seorang bayi laki-laki dari pasangan petani sederhana, Suharto dan Sugiyem, warga Dusun Semen, Desa Sukoreno, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo, DI Jogjakarta. Bayi laki-laki itu ialah Sukamta, hari ini menjabat Wakil Bupati di Tanah Laut, daerah yang terletak ribuan kilometer dari tanah kelahirannya.

Wartawan Radar Banjarmasin, Budian Noor, mendapat kesempatan berbincang banyak dengan tokoh yang sudah mengabdi selama 32 tahun di Bumi Tuntung Pandang ini. Berikut catatannya.
———————————————-
Sukamta kecil mengawali pendidikannya di SDN Kalikutuk di Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, 3 kilometer dari rumah. Meski berstatus negeri, bangunan sekolah tersebut masih sangat sederhana. Dengan dinding gedek, sehingga ketika hujan turun. Air masuk ke dalam kelas.

“Jadi kami dempet-dempetan di sudut kelas yang tidak kehujanan,” ujarnya.

Jumlah ruang kelas pun masih terbatas. Ketika duduk di kelas IV, Sukamta merasakan harus masuk bergantian dengan siswa kelas III. “Kakak kelas mengalah, masuk siang,” tambahnya.

Meskipun dari penelusuran Radar Banjarmasin, saat ini, sekolah tempat Sukamta pertama kali belajar membaca itu, sudah menjadi SD terbesar dan memiliki fasilitas paling memadai di Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo.

Lulus SD, pendidikan anak pertama dari empat bersaudara ini dilanjutkan ke SMP 1 Sentolo. Jarak rumah ke sekolah pun mulai menjauh, 5 kilometer. Beruntung ada sepeda untuk dipakai pulang pergi ke sekolah.

Perjalanan lebih berat ketika musim hujan, sepeda tidak bisa digunakan. Karena jalan tanah menjadi becek membuat lumpur lengket di roda. “Bersepeda malah lebih lambat jadinya, kalau gowes sekarang termasuk jalur ekstrem lah,” tambah Sukamta.

Perjalanan menuju sekolah semakin jauh ketika harus melanjutkan pendidikan ke SMA 1 Wates, 17 km satu kali jalan dari rumahnya di Dusun Semen, Desa Sukoreno.

Bila musim hujan, sepeda pun tidak bisa dipakai sampai rumah. Jalan becek sekitar 3 kilometer dari pinggir jalan besar menuju rumah, membuat sepeda lebih baik dititipkan saja. Lanjut pulang berjalan kaki.

Semasa SMA inilah, Sukamta mulai hobi olahraga, utamanya bola voli dan sepakbola. Ia pun sering terlibat dalam pertandingan antar desa. Sampai saat inipun, ia masih suka bertanding bola. Tergabung dalam tim Tanah Laut All Star. “Kalau voli tidak lagi turun ke lapangan, membina saja,” terangnya.

Lantas bagaimana ceritanya Sukamta sampai ke banua? Berawal dari cita-citanya ingin menjadi guru, terinspirasi dari paman yang juga menjadi seorang pendidik. Sukamta pun ingin mendaftar kuliah di IKIP negeri Jogjakarta.

Namun, ketika hal itu didengar oleh sang paman yang menjadi guru di SMPP 58 Banjarbaru (sekarang SMA 2 Banjarbaru), justru niat Sukamta muda dicegahnya.

“Kata beliau, sudah banyak keluarga kita jadi guru, gajinya kecil. Coba ke sini saja (Banjarbaru) ada APDN,” ungkap Sukamta.

APDN adalah sekolah ikatan dinas gratis dengan ikatan dinas. Sehingga lulusannya otomatis menjadi seorang PNS. APDN Banjarbaru sendiri sampai ditutup pada memiliki 25 angkatan dan Sukamta termasuk angkatan 17.
Tanggal 9 Oktober 1982, Sukamta diberangkatkan dari kampungnya menuju Banjarbaru. Sendirian, hanya bermodal janji, bahwa dia akan dijemput di Bandara Syamsudin Noor.

“Dari Jogja naik travel ke Surabaya. Belum pernah naik pesawat sebelumnya, bepergian jauh juga baru pertama,” terangnya.

Karena itulah, ia mengingat betul, pesawat yang dinaiki milik maskapai Bouraq. Tiketnya dari Surabaya-Banjarmasin Rp39 ribu, plus Airport Tax jadi 44 ribu. Dengan bekal uang Rp30 ribu. Beruntung, sang Paman menepati janji. Menunggunya di Bandara.

Periode berikutnya dalam kehidupan Sukamta, ia harus menjalani banyak seleksi untuk bisa masuk Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Banjarbaru. Mulai dari tes tertulis, tes fisik dan kesehatan, sampai screening test, tes wawancara di masa Orde Baru yang bertujuan untuk memastikan seseorang tidak terlibat PKI. Persaingan sendiri cukup ketat, dari 225 peserta seleksi hanya 50 yang akan diterima.

Selesai pendidikan, dengan gelar sarjana muda (BA) dari APDN, Sukamta mendapat tugas di Kabupaten Tanah Laut, tepatnya menjadi staf Bagian Kepegawaian. Lulusan APDN yang memang disiapkan untuk menjadi seorang aparatur negara, ternyata bukan jaminan untuk mendapat kepercayaan dari pimpinan.

“Mengetik surat saja tidak dipercaya, jadi pertama tugas kita buat amplop surat dulu, lalu mulai naik ‘pangkat’, ditugasi mengantar surat,” ujarnya tergelak.

Beberapa waktu kemudian, ia diberi tugas tambahan sebagai ajudan Bupati Kamarudin Dimeng (1983-1988) selama setahun.

Tugas berikutnya tak kalah menantang, Sukamta ditempatkan menjadi Kepala Kantor Perwakilan Kecamatan Bumi Makmur. Saat itu, wilayah Bumi Makmur masih berada di bawah Kecamatan Kurau. Pemekaran kecamatan Bumi Makmur akhirya terwujud dengan keluarganya Perda Nomor 3 tahun 2008.

Setahun bertugas, Gubernur Kalsel menugaskan Sukamta untuk melanjutkan pendidikan menjadi sarjana di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta. Ia berangkat pada Agustus 1988. Tiket itu ia dapatkan berkat prestasi selama menjalani pendidikan di APDN Banjarbaru.

“Karena lulus termasuk ranking bagus, jadi dikirim secara otomatis,” ujarnya.

Sebenarnya, tugas belajar ini didapatnya setahun sebelumnya. Tugas di daerah kecamatan yang jauh dari ibukota kabupaten, membuat telegram yang dikirimkan pemerintah provinsi terlambat diterima.

Tahun 1991, Sukamta menyelesaikan pendidikan S1 di IIP. Saat itu, ia kembali dihadapkan pada dua pilihan. Kembali ke daerah atau bertahan di IIP. Karena Ryaas Rasyid memintanya untuk bertahan di Jakarta. Kebetulan pada tahun 1989 pemerintah membentuk APDN Nasional, sehingga memerlukan banyak tenaga baru.

Tapi Sukamta memilih untuk kembali. Alasannya, ia mendapat tugas belajar dari daerah, tentu diharapkan setelah selesai kembali mengabdi di daerah. Sebagai orang pendatang, Sukamta juga mengaku tidak enak dengan pemerintah daerah yang sudah memberinya kesempatan untuk menimba ilmu lebih tinggi.

“Masa begitu ada kesempatan, langsung meninggalkan,” ujarnya.

Alasan lain adalah keluarga. Sebenarnya pada 3 Maret 1988, enam bulan sebelum pergi ke Jakarta untuk tugas belajar, Sukamta sudah mengingat janji suci dengan seorang guru muda. Ia menikahi Nurul Hikmah, pengajar di SD Handil Maluka, Kecamatan Kurau. Keduanya bertemu saat Nurul Hikmah menjalani prajabatan sementara Sukamta menjadi panitia. “Sudah ada istri dan anak, susah lagi pindah-pindah, saya pilih kembali,” cetusnya.

Akhirnya, tahun 1991, Sukamta pulang ke banua. Setelah melapor ke provinsi, sempat lagi ia mau ditahan di Diklat Provinsi. Tapi tekatnya bulat mau mengabdi di Bumi Tuntung Pandang.

Ia pun melapor pada Bupati Soepirman (1988-1992). Hingga pada April 1991 dilantik menjadi Kasubag Pengumpulan dan Penyaringan Informasi. Ini karir pertamanya di bagian Humas.

Baca Juga :  H Rudy Ariffin, Gubernur Penggiat Sosmed yang Sarat Prestasi

Tahun 1995, Tanah Laut menjadi daerah percontohan otonomi daerah, dimasa Bupati H Totok Soewarto. Ketika itu kewenangan kehutanan diserahkan ke kabupaten.

“Oleh bupati kita ditugaskan untuk membangun kantor yang baru, kepala dinas kehutanan pertamanya bapak Lukito Andi, sekarang Kepala BKSDA Banjarbaru,” ujar Sukamta yang waktu itu dilantik sebagai Kasubag TU.

Tugas ini pun berhasil ditunaikan dengan baik, ketika pemerintah pusat menawarkan bantuan untuk membangun kantor. Namun, satu bangunan itu harus diperebutkan oleh lima kabupaten di Kalsel yang memiliki dinas kehutanan. Masing-masing mengajukan proposal, bersaing kelengkapan administrasi hingga ketersediaan lahan.

“Alhamdulillah dapat, jadilah kantor yang sampai sekarang dipakai Dinas Kehutanan,” ungkapnya.

Menjadi kenangan Sukamta juga di Dinas Kehutanan adalah danau buatan di Objek Wisata Taman Labirin. Menurutnya, danau itu awalnya dibangun sebagai dam pengendali. Selain itu, ada pula kelompok tani binaan yang digerakkan untuk konservasi lahan kritis, dengan melatih mereka membuat bibit di desa, akhirnya bisa sukses menjadi pengusaha bibit. “Seperti pak Syamsul Bahri di Pantai Linuh,” ceritanya.

Dari Dinas Kehutanan, Sukamta ditarik lagi ke Humas, namun kali ini ia mendapat promosi, memegang jabatan sebagai Kepala Bagian Humas.

Oleh Bupati Danche R Arsa (1998-2003), Sukamta kemudian dilantik menjadi kepala bidang di Bappeda, kemudian ditarik lagi ke Sekretariat Daerah menjadi Kabag Organisasi. Jabatan ini cukup lama dipegang Sukamta, hampir 5 tahun sejak tahun 2001, hingga memasuki masa Bupati H Adriansyah (2003-2013).

Sebagai Kabag Organisasi, pekerjaan terbesar Sukamta adalah melakukan penataan organisasi pemerintahan sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah. Dimana, ia harus merancang organisasi yang efisien, menyusun analisa jabatan, hingga mengaktifkan Forum Komunikasi Pemberdayaan Aparatur Negara.

“Setiap bulan ada rapat forum tersebut, untuk membicarakan bagaimana memberdayakan aparat,” ujarnya.

Dari Kabag Organisasi, Sukamta lagi-lagi dipanggil ke Humas, untuk yang ketiga kalinya. Menjadi Kepala Bagian Informasi.

Bertugas sebagai Humas, membuat Sukamta banyak berinteraksi dengan Bupati. Sering dipanggil, mendiskusikan banyak hal, menjadikannya banyak belajar dari pemimpin Tanah Laut yang datang dari berbagai latar belakang. “Ada yang militer, polisi, birokrat sampai politisi,” kenangnya.

Sukamta pun mengaku beruntung, sepanjang karirnya sebagai aparatur sipil negara di Tanah Laut, ia dapat belajar dari enam Bupati yang pernah memimpin Tala. Mulai dari Kamarudin Dimeng, Soepirman, Fadhullah Thaib, Totok Soewarto, Danche R Arsa dan H Adriansyah.

“Dari beliau-beliau ini kita belajar berbagai gaya kepemimpinan, melengkapi kita. Menghadapi masyarakat yang begitu beragam, tidak bisa dengan satu gaya saja. Enam bupati ini merupakan referensi yang luar biasa,” tandasnya.

Hijrah dengan Bekal Keyakinan

APA yang paling disyukuri dalam hidup ini? Ketika pertanyaan ini dilontarkan, Wakil Bupati Tanah Laut H Sukamta pun sejenak berfikir. “Saya bersyukur memiliki orang tua yang punya cara pandang maju untuk ukuran orang tua di tahun 60-an,” ujar.

Meski hanya petani kampung yang berada di tengah kesulitan ekonomi, kedua orang tua Sukamta tetap berharap anak-anak mereka bersekolah, setinggi-tingginya. “Walaupun beliau cuma bisa bayar SPP-nya saja, selebihnya kami harus becari sendiri,” terangnya.

Karena keterbatasan itu pula, ketika diputuskan untuk mengirim Sukamta muda ke Banua, untuk mengikuti seleksi masuk Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Banjarbaru, tidak satupun anggota keluarga bisa mengantarnya.

Ia harus berangkat sendiri, terbang dari Surabaya ke Banjarmasin dengan bekal uang Rp30 ribu dan keyakinan, ada paman yang akan menyambutnya.

Berikutnya, Sukamta mengaku bersyukur, keputusan keluarga yang membuatnya harus hijrah dari Jogja ke Banua, mengantarkannya menjadi seorang aparatur sipil negara, hingga sampai pada posisi saat ini sebagai Wakil Bupati di Bumi Tuntung Pandang.

“Pengabdian selama puluhan tahun, membuat saya mengenal Tanah Laut sebagaimana mengenal diri sendiri,” ujarnya.

Seluruh wilayah Tanah Laut, 11 kecamatan, 130 desa dan 5 kelurahan, semua pernah dikunjunginya. Baik dalam kapasitasnya sebagai aparat pemerintah, maupun ketika ia tengah menjalani hobi pribadi, memancing atau bersepeda.

“Sambil bersepeda tiap Sabtu pagi, singgah di desa-desa, ngobrol sekaligus mendengar aspirasi, tahu apa yang menjadi hajat dan dikeluhkan masyarakat,” ujarnya.

Sembari memancing, bisa melihat bagaimana usaha pertanian masyarakat. “Bagus ajakah banihnya, ada hama atau kada. Kalau ketemu di sawah atau di kebun, semua orang bisa ngomong,” cetusnya.

Beberapa tahun terakhir, Sukamta juga sering naik ke atas mimbar, buka untuk menyampaikan sambutan dalam kapasitasnya sebagai seorang pejabat. Melainkan diminta untuk menyampaikan khutbah maupun ceramah.

Kiprahnya dalam dunia dakwah ini, menurutnya bermula ketika pada tahun 2012 di masa Bupati H Adriansyah, ketika ada kegiatan Manunggal Tuntung Pandang, dimana seluruh pejabat diminta untuk menginap di desa. “Mendadak oleh pak Bupati kita diperintahkan mengisi tausiyah usai salat magrib,” ujarnya.

Setelah itu, ia pun sering diminta oleh warga, untuk naik mimbar dadakan. “Katanya, mumpung bapak disini. Tapi kita lihat-lihat juga, kalau di situ ada ulama atau ustadznya. Tentu beliau yang lebih fasih, lebih utama,” ujarnya. (bin/ema)

BIODATA

Nama : Drs. H. Sukamta
Jabatan : Wakil Bupati Tanah Laut (2013-2018)
TTL : Kulonprogo 30 Juli 1963

Orang Tua:
Ayah : H. Suharto
Ibu : Hj. Sugiyem

Istri : Hj. Nurul Hikmah
Anak:
1. Indah Novita Purnamasari (ASN BPMPD Kalsel)
2. Syahid Fitratullah (ASN KPP Pratama Kosambi)
3. Zulfa Mazidah (Kelas 6 SD)
Hobi : Memancing, Sepakbola, Bersepeda

Riwayat Pendidikan:
SDN Kalikutuk
SMP 1 Sentolo
SMA Negeri 1 Wates
Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Banjarbaru
Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta

Riwayat Pekerjaan:
1. Staf Bagian Kepegawaian Setda Tala
2. Ajudan Bupati Tanah Laut
3. Kepala Kantor Perwakilan Kecamatan Bumi Makmur
4. Kasubag Pengumpulan dan Penyaringan Informasi
5. Kasubag TU Dinas Kehutanan Tala
6. Kasubag Humas Setda Tala
7. Kabid di Bappeda Tala
8. Kabag Organisasi Setda Tala
9. Kabag Informasi Setda Tala
10. Kepala Bappeda Tala
11. Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Tala
12. Kepala BPMPD Tala.

Penghargaan:
1. Piagam sebagai terbaik ke-4 Penulisan Karya Jurnalistik Hari Pers Nasional tahun 1993 dari PWI Kalsel.
2. Piagam penghargaan Dirjen PMD dalam penulisan Karya Jurnalistik menyambut hari bakti LKMD tahun 1994.
3. Satya Lencana Karya Satya Kesetiaan 10 tahun pada tahun 2004 dari Presiden RI.
4. Satya Lencana Karyasatya Kesetiaan 20 tahun pada tahun 2014 dari Presiden RI.

sumber radar banjarmasin

Facebook Comments

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional