Tidak Mau Disusui di Depan Umum, Mengisap Lidah Ulama (Qusyairi Semasa Bayi) - ayooha.com ! Portal Berita Banua Terkini

ayooha.com ! Portal Berita Banua Terkini

Rambut tebal & kuat tidak mudah rontok tanpa ke dokter‎

Tidak Mau Disusui di Depan Umum, Mengisap Lidah Ulama (Qusyairi Semasa Bayi)

  • Sabtu, 2 Februari 2019 | 07:07
  • Dibaca : 1181 kali
Tidak Mau Disusui di Depan Umum, Mengisap Lidah Ulama (Qusyairi Semasa Bayi)
Abah Guru Sekumpul waktu muda. foto istimewa

BERTEPATAN dengan kedatangan tentara Nippon Jepang Tahun 1942 ke Martapura, ibukota Kabupaten Banjar, Kalsel . Cerita bermuasal dari kota ini, pada masa penjajahan di era Perang Dunia II.  Fitnah sungguh merajalela, keluarga, Abdul Ghani terpaksa mengungsikan keluarganya mencari tempat yang paling aman, agar istrinya, Masliyah, yang tengah hamil tua,  dapat melahirkan bayinya dengan selamat.

Kedua orangtua Abah Guru Sekumpul, Syeikh Abdul Ghani & Hj Masliyah. foto istimewa

Dengan sembunyi-sembunyi dibawalah istrinya yang sudah hamil tua tersebut, bersama ibu mertuanya (Salbiyah), dengan menggunakan jukung (perahu kecil) melewati sawah dan sungai. Jukung ini menuju Desa Tunggul Irang Seberang, ke sebuah rumah, milik salah seorang paman Salabiah yang bernama Abdullah. Rumah si paman ini kebetulan berdampingan dengan rumah Tuan Guru H Abdurrahman tokoh ulama masyarakat Tunggul Irang Seberang yang terpandang dan disegani oleh pihak manapun.

Meskipun Masliyah bukanlah keponakan ujud (langsung) dari Paman Abdullah, perhatian dan perlakuan beliau terhadap mereka sangatlah baik, padahal kehidupan beliau sendiri sangatlah kekurangan.

Dipilihnya Desa Tunggul Irang Seberang sebagai tempat untuk berlindung adalah karena dianggap paling aman di saat itu. Selama masa Tuan Guru H. Adu (Panggilan Tuan Guru H Abdurrahman) tinggal dan dibesarkan di Desa Tunggul Irang tersebut, tentara kolonial tidak pernah menginjakkan kakinya di desa ini.

Baca Juga :  Ujar Ustadz Arifin Ilham, Ada Satu Ulama Banua yang Istiqomah Duduk Mengaji dengan Guru Sekumpul

Sebab setiap kali akan menuju desa tersebut, selalu saja mendapat halangan dan rintangan yang tidak terduga, sebagaimana beberapa kali perahu tentara Belanda yang akan melewati Desa Tunggul Irang selalu saja kandas dan tenggelam, dengan alasan yang tidak dimengerti oleh mereka.

Saat-saat Kelahiran yang Menegangkan …………. baca di sebelah

Facebook Comments

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional